Lanjut Bupati, ini menjadi wujud nyata bahwa Kabupaten Tanggamus memiliki keragaman kekhasan seni budaya. Jija kita gali bersama mungkin tiap-tiap pekon ada kekhasan seni budaya masing-masing. Sehingga harus dilestarikan, jika itu berbentuk benda maka bisa dititipkan di museum. Namun jika kegiatan-kegiatan yang sifatnya tak benda mungkin bisa dikembangkan seperti tarian ataupun tradisi-tradisi lainnya.
“Saya disini setuju bahwa keberadaan museum ini harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus. Tadi saya juga sudah melihat ada tarian yang menjadi kebanggaan Kabupaten Tanggamus, yaitu tarian yang sudah didaftarkan menjadi warisan kekayaan tak benda, juga sudah dibukukan oleh taman budaya,” ungkap Bupati Dewi.
Sementara itu, Tokoh Adat Pekon Sanggi Unggak Abu Sahlan menyampaikan, bahwa digelarnya Festival Museum Keratuan Semaka yang ke-8 ini bertujuan untuk melestarikan adat dan budaya Lampung agar tidak punah. “Kita bekerjasama dengan Ikatan Mahasiswa Bandar Negeri Semuong (Ikam BNS) dalam menggelar festival ini,” ujarnya.
Lanjutnya, bahwa museum Keratuan Semaka merupakan salah satu museum yang sudah digitalisasikan. Museum yang terletak di Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semuong ini, berdiri pada tahun 2015. “Dalam museum tersebut tersimpan benda-benda kuno dan bersejarah. Diantaranya seperti baju perang dan pedang dari Kesultanan Banten. Kemudian ada juga keramik Dinasti Tan abad 1, pecahan keramik dari kerajaan Tumasek (Singapura) dan dari sisa kolonialisme Belanda,” ungkapnya.
Dalam acara ini Bupati Dewi Handajani juga melakukan penyerahan bantuan yang diberikan kepada Tokoh Adat Pekon Sanggi Unggak.





Lappung Media Network